THE BEST NINE OPINIONS

Asal Usul Hari Jadi Kediri 

Oleh: Imam Mubarok


Jauh sebelum Kediri tumbuh menjadi wilayah yang makmur, lembah Culanggi di timur Kediri pernah dilanda banjir berulang dari Sungai Harinjing. Sawah rusak, kehidupan terancam, dan harapan hampir padam.
Di tengah keadaan itu, hadir seorang Begawan bijak: Bhagawanta Bhari. Ia tidak melawan air, tetapi mengarahkannya. Bersama murid dan masyarakat, ia membangun bendungan sederhana, menyusun batu, menimbun tanah, dan mengatur aliran sungai. Perlahan, bencana berubah menjadi berkah. Air yang dulu menghancurkan, kini menghidupi. Sawah kembali hijau. Desa tumbuh makmur.

Atas jasanya, Bhagawanta Bhari menerima penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Raja Medang Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong, dan wilayah itu ditetapkan sebagai daerah bebas pajak.
Peristiwa bersejarah ini kemudian diabadikan dalam Prasasti Harinjing beraksara Kawi, bertanggal 25 Maret 804 Masehi, yang menyebut wilayah Kadiri — cikal bakal hari jadi Kediri.
Dari air… lahir peradaban.

Dari kebijaksanaan… tumbuh Kediri.



*Budayawan Kediri.

*****
Menakar Ulang Narasi Antirokok: Warisan Alam atau Regulasi? 

Oleh: S. Alamsyah



Di tengah gencarnya kampanye anti-rokok global, seolah ada satu suara yang terus-menerus mengulang: perokok adalah biang kerok kematian dini. 

Paru-paru yang hitam, angka kematian akibat kanker, serta pusaran penyakit degeneratif seperti jantung dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) apa penyebabnya? Rokok. 

Namun, apakah hitam-putih begitu persoalannya?

Di Indonesia, narasi itu kini mulai dibungkus dalam bentuk aturan hukum. 

Pemerintah melalui draf Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari UU Kesehatan berniat memasang batas maksimal kadar nikotin hanya 1 mg dan tar 10 mg per batang. 

Tujuannya mulia: melindungi generasi muda dari bahaya kecanduan.

Tapi kebijakan itu tak ubahnya seperti petir di siang bolong bagi ekosistem Industri Hasil Tembakau (IHT). 

Bukan sekadar karena bisnis rokok besar akan terganggu. 

Melainkan karena ada benturan fundamental antara regulasi dan karakteristik alam Nusantara.

Alam dan Regulasi

Tembakau Indonesia adalah warisan budaya. 

Dari lereng Temanggung hingga Madura, varietas tembakau lokal seperti tembakau Virginia, Besuki, dan Kasturi dikenal memiliki kadar nikotin alami yang tinggi. 

Menurut data Kementerian Pertanian, produktivitas tembakau nasional mencapai lebih dari 180 ribu ton per tahun. 

Diserap oleh ratusan pabrik dan ribuan petani.

“Jika aturan 1 mg nikotin dipaksakan, itu sama saja memvonis mati tembakau lokal,” ujar seorang petani tembakau yang hadir dalam pertemuan uji publik yang digelar Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) bulan Maret lalu. 

Artinya, kita seperti menghukum petani karena geografisnya.

Tak main-main, sektor IHT menyerap lebih dari 5 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung—mulai dari petani, buruh linting, hingga agen pengecer. 

Cukai hasil tembakau juga menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara, mencapai lebih dari Rp200 triliun per tahun (Kemenkeu, 2023). 

Di sinilah letak dilema klasik: antara melindungi kesehatan generasi masa depan atau mempertahankan nafkah jutaan rakyat.

Standar Ganda 

Pemerintah berdalih bahwa langkah ini demi menyelamatkan anak-anak Indonesia dari jeratan nikotin. 

Namun, para pelaku usaha dan akademisi mulai menyoroti standar ganda kebijakan publik. 

Mengapa rokok jadi sasaran tembak paling keras, sementara konsumsi gula yang meledak-ledak di minuman kemasan dan makanan olahan dibiarkan leluasa?

Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi obesitas dan diabetes terus merangkak naik. 

Bahkan, Indonesia masuk dalam daftar negara dengan penderita diabetes tertinggi di Asia. 

Namun, hingga kini belum ada kebijakan seketat itu terhadap kadar gula.

Belum lagi soal polusi udara. 

Setiap hari, paru-paru pengemudi ojek online di Jakarta, Surabaya, dan Medan menghirup gas buang kendaraan yang mengandung PM2,5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida. 

Sebuah studi dari IQAir bahkan menyebut Jakarta sebagai salah satu kota dengan polusi udara tertinggi di dunia. Ironisnya, tak ada kampanye sefrenetik “anti-emisi” seperti halnya anti-rokok.

Di sinilah nama Lauren A. Colby mulai relevan untuk diseret ke panggung diskusi kita.

Membongkar "Junk Science"

Lauren A. Colby, seorang pengacara asal Amerika Serikat, menulis buku kontroversial berjudul In Defense of Smokers (1995). 

Buku ini dianggap tabu karena berani mempertanyakan dogma medis arus utama yang menyudutkan rokok sebagai biang kerok tunggal penyakit paru.

Colby tidak pernah bilang merokok itu sehat. 

Namun, ia melancarkan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai junk science—sains sampah yang kerap digunakan untuk membangun propaganda ketakutan massal. 

Apa saja poin Colby yang membakar logika kita?

Pertama, manipulasi statistik dan pengabaian faktor lingkungan. 

Colby berargumen bahwa banyak studi epidemiologi tentang rokok dan kanker paru sering kali mengabaikan variabel lain. 

Seperti polusi industri, paparan asbes, atau faktor genetik. 

Di Indonesia, hal ini bisa dianalogikan dengan fakta bahwa pekerja tambang, pabrik tekstil, atau bahkan petani yang terpapar pestisida jauh lebih rentan terhadap penyakit pernapasan. 

Namun tak pernah mendapat sorotan sama seperti perokok aktif.

Kedua, paradoks umur panjang di tengah konsumsi tembakau tinggi. 

Colby menyoroti fenomena di sejumlah wilayah Asia—seperti Okinawa (Jepang) atau sebagian kecil masyarakat tradisional di India—yang memiliki angka harapan hidup tinggi meski tingkat konsumsi tembakau juga signifikan. 

Apakah ini berarti nikotin bukan satu-satunya variabel? 

Tentu tidak. 

Tapi ini mengajak kita bertanya: apakah yang lebih dominan adalah gaya hidup, pola makan, atau dukungan sosial?

Aspek Psikososial

Colby juga menekankan satu hal yang kerap dilupakan birokrat kesehatan: kebahagiaan kecil yang didapat perokok. 

Bagi buruh pabrik, kuli angkut, atau nelayan yang pulang melaut, rokok adalah semacam "ritual istirahat" yang memberi relaksasi sejenak dari himpitan ekonomi. 

Mengabaikan aspek ini, menurut Colby, adalah bentuk arogansi kebijakan publik yang hanya melihat tubuh, bukan jiwa manusia.

Dilema "Emas Hijau"

Jika pemerintah memaksakan batas 1 mg nikotin dan 10 mg tar tanpa kompromi, kita mungkin menyaksikan skenario paling suram: runtuhnya ekosistem tembakau lokal. 

Pabrik rokok akan berbondong-bondong mengimpor tembakau kadar rendah dari luar negeri atau memaksa petani mengubah varietas. 

Akibatnya? Petani lokal tergusur. Warisan agrikultur Nusantara perlahan lenyap.

Sebagai perbandingan, negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa memang sudah menerapkan batasan kadar nikotin dan tar. 

Namun, struktur industri tembakau mereka berbeda: petani tembakau di sana sudah tersubsidiasi dan terintegrasi dengan perusahaan raksasa.

Sementara di Indonesia, sebagian besar petani adalah rakyat kecil dengan lahan terbatas.

Kritik terhadap kebijakan anti-rokok saat ini bukan berarti anti-kesehatan. 

Justru sebaliknya: kritik ini lahir dari keinginan agar kebijakan publik itu adil. Ilmiah dan manusiawi. 

Mengapa polusi kendaraan tidak ditekan dengan regulasi setara? 

Mengapa gula tak dibatasi seketat nikotin? 

Mengapa suara petani tak didengar dalam setiap draf kebijakan?

Membaca ulang buku In Defense of Smokers di era sekarang bukan ajakan untuk merokok massal. 

Melainkan ajakan untuk tidak mudah terjebak dalam narasi tunggal. 

Colby mengajarkan satu hal berharga: skeptisisme sehat terhadap kampanye yang terlalu sempurna.

Indonesia seharusnya tidak perlu memilih antara membiarkan warganya mati karena rokok atau membunuh industri sendiri. 

Ada jalan tengah yang lebih bijak: pengawasan ketat terhadap peredaran rokok ilegal. 

Kampanye bahaya merokok tanpa stigmatisasi berlebihan. 

Diversifikasi tanaman bagi petani tembakau. 

Dan yang terpenting: regulasi yang proporsional terhadap semua faktor risiko kesehatan. Bukan hanya tembakau.

Karena pada akhirnya, kesehatan masyarakat tak akan pernah tercapai dengan kebijakan yang buta terhadap realitas sosial, ekonomi, dan geografis bangsanya sendiri.

*Penulis adalah pendiri Pusat Studi Pembangunan Berbasis Pancasila.

*****

Kartu Merah Bastoni, Tanda Berakhirnya Kutukan?
Oleh: Yasin Al Raviri

Malam di Stadion Bilino Polje, Zenica kemarin, bukan sekadar malam kekalahan biasa. 

Itu adalah requiem, sebuah kidung kematian bagi timnas Italia yang kembali gagal ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Kegagalan Saat Bastoni Dikartu Merah

Menghadapi Bosnia-Herzegovina dalam laga hidup-mati kualifikasi Piala Dunia 2026, Gli Azzurri sebenarnya sempat memegang kendali lewat gol Moise Kean pada menit ke-15.

Bayangan Piala Dunia 2026 seolah sudah di depan mata.

Namun, gairah itu mendadak padam di menit ke-41.

Defender Alessandro Bastoni, melakukan tekel yang ceroboh.

Wasit pun menghukumnya dengan kartu merah langsung.

Sejak pemain Inter Milan itu keluar, Italia bermain compang-camping dengan 10 pemain.

Penguasaan bola Bosnia unggul bersama juga dengan peluang tembakannya.

Tekanan bertubi, akhirnya membuat gol penyeimbang jadi keniscayaan.

Italia kebobolan di menit ke-79, dan harus menjalani babak adu penalti.

Dalam kondisi ini, mental Italia tetap stagnan.

Hanya Sandro Tonali yang sukses mengeksekusi, sementara dua pemain Italia lain gagal.

Italia pun kalah tragis 1-4.

Matriks Peristiwa 20 Tahun Lalu di Berlin

Kartu merah Bastoni itu sesungguhnya ada keterikatan matriks dengan sejarah sebelumnya.

Seperti déjà vu mistis dari malam di Berlin, dua puluh tahun silam.

Kita tentu ingat bagaimana Marco Materazzi memprovokasi Zinedine Zidane hingga sang maestro Prancis itu meledak dan menghantamkan kepalanya ke dada Materazzi.

Kartu merah yang diterima Zidane saat itu adalah "berkah" yang mengantar Italia ke podium juara dunia 2006.

Tapi bagi Zizou, malam itu seperti neraka.

Tandukannya kemudian dicibir banyak media sebagai kegagalan Prancis, ia terpancing provokasi kotor Materazzi yang menghina ibu dan adik perempuannya.

Kartu merah Bastoni kemarin seperti karma yang dituntut oleh semesta.

Seolah-olah kartu merah yang disebabkan Materazzi untuk Zidane, baru benar-benar "dilunasi" dua dekade kemudian lewat kartu merah Bastoni.

Disinlah pola karma ini mulai terbaca. Materazzi dan Bastoni sama-sama bermain di posisi Central Defender (CB), dan untuk klub yang sama, yakni Inter Milan!

Bisa dibilang, defender Inter Milan adalah balak sejak peristiwa tandukan Zidane dulu.

Pola kegagalan Italia ini juga tak pernah berubah.

Selama periode "kegelapan", lini belakang Italia tak pernah absen dari pilar-pilar Inter Milan.

Karma itu terus mengalir selama Gli Azzurri memainkan defender yang berasal dari klub yang sama seperti Materazzi.

Setelah tersingkir memalukan di fase grup 2010 dan 2014, Italia justru menjadi "penonton" di tiga edisi beruntun.

Pada 2018, mereka dijinakkan Swedia dengan agregat 1-0. Pada 2022, mereka dihancurkan oleh gol telat Makedonia Utara (0-1) di rumah sendiri.

Dan kutukan itu berlanjut sampai kemarin, Italia gagal ke Piala Dunia lagi setelah ditundukkan Bosnia-Herzegovina.

Dalam fase itu, kita bisa melihat barisan pertahanan Italia yang selalu diperkuat bek Inter Milan.

Setelah era Materazzi, berlanjut ke skuat tahun 2011-2019, di mana nama-nama seperti Andrea Ranocchia, Danilo D’Ambrosio, hingga Cristiano Biraghi silih berganti mengisi slot pertahanan Italia.

Di era 2020-2026 barisan belakang Italia juga duhuni kuartet Inter Milan seperti Francesco Acerbi, Matteo Darmian, Federico Dimarco, hingga akhirnya Alessandro Bastoni.

Seolah ada energi negatif yang terus merembes dari seragam Nerazzurri ke jantung pertahanan Gli Azzurri, membuat Dewi Fortuna selalu memalingkan wajah setiap kali Italia mencoba mengetuk pintu Piala Dunia.

Saya merasa kartu merah Bastoni di menit ke-41 itu adalah "tumbal terakhir" Materazzi.

Saat Materazzi memenangkan Piala Dunia 2006, ia sekaligus mewariskan beban karma yang sangat berat untuk dipikul generasi setelahnya.

Beban itu kini tuntas dibayar oleh Bastoni, pemain yang berbagi posisi dan klub yang sama dengan sang provokator di Berlin.

Antisipasi untuk Piala Dunia 2030

Kartu merah di Zenica adalah tanda berakhirnya siklus 20 tahun kegelapan.

Dengan tumbal yang sudah diserahkan, Gli Azzurri diprediksi akan kembali menghirup udara segar di Piala Dunia 2030, karena hutang masa lalu telah tunai.

Namun, untuk memastikan kutukan ini benar-benar terkubur di dasar bumi, pelatih Italia di masa depan harus mengambil langkah radikal sebagai mantra penutup babak kelam ini.

Di masa kualifikasi Piala Dunia 2030 nanti, sebaiknya benteng pertahanan Italia bersih dari defender Inter Milan.

Jangan ada "Materazzi" lain sampai peraih empat gelar juara Piala Dunia itu masuk lagi di edisi Piala Dunia 2030.

Kecuali ada spekulasi lain, yang sangat tidak mungkin terjadi. Yakni pemaafan dari Zinedine Zidane kepada Marco Materazzi secara personal.

Sebab sampai kinipun, sang legenda Perancis itu tidak pernah mau membuka pintu maaf ataupun berbicara kepada Materazzi.

Selama ini, permintaan komunikasi terbuka oleh Materazzi tidak pernah diwujudkan Zidane. Komunikasi mereka membeku selama 20 tahun. Dan selama kebekuan itu, prestasi Italia juga ikut membeku.

*Jurnalis | Penggila Bola

****

Hemat Energi atau Sekadar Imbauan?
Oleh: Ekky Dirgantara


Seruan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tentang Gerakan Hemat Energi datang pada momen yang tepat ketika tekanan energi global mulai terasa hingga ke level daerah. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah ini akan benar-benar mengubah perilaku, atau sekadar berhenti sebagai imbauan?
Kita sudah terlalu sering mendengar ajakan “hemat energi” tanpa perubahan struktural yang nyata. Imbauan tidak pernah salah, tapi juga jarang cukup.
Di satu sisi, langkah mendorong subsidi LPG 3 kilogram agar tepat sasaran adalah kebijakan yang masuk akal. Data desil yang digunakan pemerintah memberi dasar rasional: kelompok bawah yang benar-benar membutuhkan harus dilindungi, sementara kelompok mampu seharusnya keluar dari skema subsidi.
Masalahnya bukan pada konsep melainkan pada eksekusi.
Selama ini, distribusi LPG subsidi kerap bocor. Kelompok yang seharusnya tidak berhak masih bisa mengakses, sementara kelompok rentan justru kesulitan mendapatkan pasokan di lapangan. Tanpa pengawasan yang ketat dan sistem distribusi yang transparan, “penajaman subsidi” hanya akan menjadi jargon teknokratis.
Imbauan untuk tidak panic buying juga logis. Pemerintah dan Pertamina Patra Niaga memastikan stok aman. Tapi kita tahu, panic buying bukan semata soal ketersediaan barang melainkan soal kepercayaan publik.
Begitu masyarakat merasa informasi tidak konsisten atau distribusi tidak merata, panic buying akan terjadi, bahkan ketika stok sebenarnya cukup.
Di titik ini, komunikasi publik menjadi krusial. Bukan sekadar menenangkan, tapi meyakinkan dengan data yang terbuka dan distribusi yang benar-benar terasa di lapangan.
Lebih jauh, gerakan hemat energi akan sulit berdampak signifikan jika hanya dibebankan ke rumah tangga. Konsumsi energi terbesar justru ada di sektor industri, transportasi, dan sistem logistik. Tanpa intervensi yang lebih besar di sektor-sektor tersebut, ajakan hemat energi berisiko menjadi beban moral bagi masyarakat, bukan solusi sistemik.
Di sinilah tantangan sebenarnya.
Apakah pemerintah daerah berani melangkah lebih jauh dari sekadar imbauan? Misalnya dengan insentif untuk efisiensi energi di sektor usaha, penguatan transportasi publik, atau bahkan pembatasan konsumsi energi yang lebih terukur?
Tanpa itu, gerakan hemat energi akan berhenti sebagai kampanye bukan perubahan.
Pada akhirnya, publik tidak membutuhkan seruan. Publik membutuhkan kepastian: bahwa energi tersedia, subsidi tepat sasaran, dan kebijakan dijalankan secara adil.
Jika itu bisa dijamin, masyarakat tidak perlu diimbau untuk tenang mereka akan tenang dengan sendirinya.

****
Syiah: Eksklusi atau Inklusi
Oleh: Hertasning Ichlas


Melalui perang di Iran, belakangan ini banyak pihak memikirkan bagaimana Syiah dipahami sebagai “teologi perlawanan.” dan “protes”.
Pembacaan seperti yang ditawarkan Thanassis Cambanis & Sajad Jiyad (2023) Adel Hashemi (2022), Hamid Dabashi (2011), maupun lebih lampau oleh Juan Cole dan Nikki R. Keddie (1986), menunjukkan bahwa gagasan tersebut “arguably” tidak lahir dari romantisasi semata, melainkan memiliki akar teologis sekaligus material yang panjang dan kompleks.
Karena itu, saya menganjurkan kita membaca karya-karya tersebut dengan lebih saksama, daripada tergesa-gesa mengidealisasi Syiah terutama dari bahan-bahan update-an di medsos dalam konteks perang Iran hari ini. Banyak emosi dan euforia dari perang ini yang menurut saya dangkal.
Selama masih hidup di dunia, materialisme sejarah dan praktik perlawanan tidak pernah berjalan lurus; ia penuh tikungan, ambiguitas, jatuh dan bangun diikuti konsekuensi yang sering kali tidak kita bayangkan dari kejauhan sementara kita mendengungkan euforia seraya berlindung di balik pertempuran bangsa dan negara lain seperti Iran.
Dalam euforia dukungan terhadap sebuah perjuangan, mudah bagi kita untuk bersorak atas heroisme dan kemenangan. Namun, pertanyaan yang lebih humble dan mawas diri jarang diajukan: apakah kita juga siap menghadapi kemungkinan kekalahan, kehancuran, dan biaya kemanusiaan yang menyertainya?
Saya, yang jelek-jelek gini pernah ketiban keberkahan bersama tamu lain (karena merekalah saya ikutan ngalap berkah) mencium tangan, pundak —dan dapat hadiah cincin serta kafiyeh shalat milik Rahbar Syahid Ali Khamenei merasa risih mengidealisasi syiah.
Sebab dalam pengidealisasian itu, tanpa kita sadari, ada kecenderungan untuk mengeksklusi alih-alih menginklusi.
Kita membangun sekat antara yang dianggap “Islam beneran” dan “tidak”, antara yang “berjuang” dan yang “tidak cukup” padahal realitasnya jauh lebih berlapis dan penuh nuansa-nuansa.
Pada akhirnya, perlawanan terhadap ketidakadilan bukanlah milik satu mazhab atau tradisi tertentu. Bahkan bukan tentang agama dan preferensi sektarian. Ia adalah dorongan etis yang inheren dalam banyak agama, bahkan juga hadir dalam nalar manusia merdeka yang tidak beragama.
Mungkin di situlah kita perlu menempatkan refleksi kita: tidak sekadar pada glorifikasi, menyempit soal “Kita dan Kami” tetapi pada pemahaman yang lebih jernih tentang apa yang dipertaruhkan. Selain menjaga agar narasi perlawanan terhadap penjajahan tetap terbuka, kritis, merangkul, dan tidak kehilangan kemanusiaannya.

****
The Eraser
Oleh: Bismo Agung



Ada satu jenis tulisan yang belakangan ini terasa semakin akrab di ruang publik kita. 

Nadanya tenang, bahasanya rapi, dan isinya seolah mengajak kita untuk menjadi lebih bijak. 

Ia tidak marah, tidak menyudutkan, bahkan tampak adil karena memberi ruang pada berbagai sisi.

Tulisan seperti ini, harus diakui, memberi kesan menenangkan. 

Di tengah arus informasi yang serba cepat dan sering kali emosional, kehadirannya seperti jeda yang menawarkan kejernihan. 

Namun justru karena itu, ia layak dibaca dengan kehati-hatian yang sama besarnya.

Sebab tidak semua yang terdengar bijak sepenuhnya netral.

Ada tulisan yang tidak berupaya memenangkan perdebatan secara langsung, melainkan perlahan menggeser cara pandang pembaca. 

Ia tidak menolak kritik, tetapi mengajak untuk meragukan arahnya. 

Ia tidak membantah argumen, tetapi memindahkan perhatian dari substansi ke latar belakang, dari persoalan ke kemungkinan motif.

Di titik tertentu, pendekatan ini tidak lagi sekadar mengajak memahami, tetapi mulai membentuk cara kita menilai.

Dalam perkembangan terakhir, muncul kecenderungan yang patut dicermati dengan lebih jernih: hadirnya berbagai suara yang tampil sebagai analis atau pakar, dengan gaya yang terukur dan berbasis data, namun bekerja dalam lanskap wacana yang tidak sepenuhnya steril dari kepentingan. 

Ini bukan sesuatu yang selalu tampak kasat mata, melainkan bergerak di wilayah yang lebih halus—di dalam cara argumen disusun.

Melalui tulisan-tulisan yang tampak objektif, sering kali terjadi penyederhanaan yang tidak terasa. Data dipilih secara selektif, konteks dipersempit, dan kesimpulan dibangun secara bertahap hingga terlihat wajar. 

Dalam proses seperti ini, logical fallacy tidak hadir sebagai kesalahan mencolok, melainkan sebagai bagian dari alur yang tampak masuk akal.

Di sinilah pentingnya kewaspadaan pembaca dari mahluk yang saya sebut The Eraser. 

Mahluk yang hadir ketika sebuah kritik terhadap pemerintah butuh penghapus, atau pemecah keyakinan atas sikap kritis khalayak.

Bukan untuk menolak setiap pandangan yang berbeda, melainkan untuk memastikan bahwa apa yang kita terima benar-benar berdiri di atas penalaran yang utuh. 

Karena dalam bentuknya yang paling halus, pembentukan opini tidak lagi bekerja melalui tekanan, tetapi melalui pengaturan sudut pandang.

Tulisan-tulisan semacam ini juga kerap menempatkan berbagai posisi dalam kerangka yang tampak seimbang. 

Pemerintah, oposisi, dan kelompok kritis dipandang memiliki potensi bias masing-masing. 

Pendekatan ini tentu memiliki nilai, tetapi jika tidak disertai pembacaan konteks yang memadai, ia berisiko mengaburkan perbedaan yang justru penting untuk dipahami.

Akibatnya, semua hal terasa relatif, dan pembaca didorong untuk menunda penilaian tanpa batas yang jelas.

Kehati-hatian memang bagian penting dari nalar publik. Namun jika keraguan terus dipelihara tanpa arah, ia dapat menjauhkan kita dari kemampuan untuk melihat persoalan secara tegas ketika diperlukan.

Karena itu, membaca hari ini tidak cukup hanya dengan mencari apa yang terdengar masuk akal. 

Kita juga perlu bertanya: bagaimana sebuah argumen dibangun, apa yang disertakan, dan apa yang mungkin tidak disampaikan.

Bukan untuk menjadi curiga pada segala hal, melainkan untuk menjaga agar ruang berpikir tetap terbuka dan tidak diarahkan tanpa disadari.

Pada akhirnya, kualitas percakapan publik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berbicara, tetapi juga oleh sejauh mana kita, sebagai pembaca, mampu mengenali cara sebuah narasi bekerja.

Dan mungkin, di tengah banyaknya tulisan yang terasa benar, kewaspadaan justru menjadi bentuk paling sederhana dari tanggung jawab intelektual.

****
 
Jangan Terbelah Perang AS-Israel vs Iran

Oleh: Joseph E Ikanubun 


Membaca/menonton berita-berita terkait perang AS + Israel versus Iran, kita seperti sedang membaca beberapa koran di akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Ketika itu konflik bernuansa SARA terjadi di Maluku dan Maluku Utara.

Tidak sulit untuk mengklasifikasi koran-koran mana yang memihak kelompok "A" dan mana yang memihak kelompok "B".

Bahkan konon satu grup perusahaan media besar, demi meraup keuntungan, membuat dua koran; yang pro kelompok "A", dan pro kelompok "B".

Lebih dari 26 tahun kemudian, saat krisis Timur Tengah, kita masih juga disuguhi berita-berita di media massa dengan framing tertentu yang memihak salah satu kelompok.

Kondisi makin runyam ketika akun-akun media sosial (medsos) ikut mengompori dengan informasi-informasi yang tidak akurat, bahkan hoaks.

Mirisnya, kalangan wartawan pun dengan mudah dikelompokkan, paling tidak dari emot, like, dan komen mereka di unggahan medsos yang bertebaran.

Dua dari sembilan elemen jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel adalah kebenaran, dan disipin verifikasi.

Dua dari lima fungsi pers sebagaimana UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers adalah informasi dan edukasi.

Di tengah krisis ini, media massa dan jurnalis punya peran penting yang tetap harus dijaga dan dikerjakan.
*****
Ciri-ciri Akun Buzzer Media Sosial
Oleh: Sandyawan Sumardi 


Inilah ciri-ciri akun buzzer (buzzerRp) media sosial berdasarkan pola umum yang sering kita temukan:

(1). Akun itu tidak menggunakan foto diri asli di profilenya.

(2). Akun itu  sengaja dikunci oleh pemiliknya.

(3). Nama pengguna (username) acak atau panjang: Seringkali menggunakan kombinasi nama dan angka acak (contoh: @user12345678, @nama_acak_99), menunjukkan akun tersebut dibuat secara massal atau otomatis (bot).

(4). Aktivitas me-retweet/share berlebihan: Akun tersebut jarang membuat konten orisinal, melainkan intens me-retweet, membagikan ulang, atau menyukai konten dari satu pihak tertentu secara terus-menerus tanpa henti.

(5). Komentar seragam (copy-paste): Sering meninggalkan komentar yang sama persis di berbagai postingan berbeda untuk menggiring opini.

(6). Tanggal pembuatan akun baru dan pengikut sedikit: Akun biasanya baru dibuat, namun sudah sangat aktif, dan jumlah pengikutnya sedikit atau bahkan nol.

(7). Fokus konten hanya pada satu isu/isu politik: Timeline atau histori postingan hanya berisi serangan atau pembelaan terhadap figur, partai, atau produk tertentu.

(8). Agresif dan menyerang. Narasi yang digunakan cenderung emosional, provokatif, memicu kebencian, atau membela kelompok tertentu. 

Nah, melalui pola ini, semoga kita, masyarakat umum dapat segera  mengenali akun yang sengaja dibuat untuk memanipulasi opini publik. 

Leiden, 3 Maret 2026

*****

Seorang Guru Bernama Eric Ireng

Oleh: Edi Purwanto


Pagi itu, 2004. Rumput Lapangan Gelora Sepuluh Nopember masih basah oleh embun. 

Para wartawan berdiri menyebar di tepi lapangan, menunggu momen. 

Di salah satu sudut kanan gawang, seorang lelaki bertubuh gempal duduk tenang. 

Wajahnya sangar. 

Kulitnya legam. 

Di tangannya, kamera Nikon dengan lensa tele panjang menjulur seperti meriam kecil yang siap menembak cahaya.

Namanya Eric Siswanto. Tapi kami mengenalnya sebagai Eric Ireng.

Julukan itu melekat bukan karena ia keras, barangkali karena kulitnya yang gelap dan keakraban khas anak lapangan. 

Di balik raut wajah yang membuat orang segan, ada senyum tipis yang jarang gagal mencairkan suasana. Ia fotografer senior Harian Surya.

Aku? Hanya wartawan junior dengan kamera cekrek dan roll film yang harus diputar manual.

Hari itu kami meliput pertandingan sepak bola yang diikuti Kapolda Jatim saat itu, almarhum Irjen Pol Firman Gani. 

Aku berdiri agak jauh, mencoba mencari sudut. Minder? Tentu saja. 

Kamera seadanya, pengalaman minim, dan di sebelahku duduk seorang jebolan Stikosa AWS yang reputasinya sudah panjang di lapangan.

Tiba-tiba ia melirik.

“Kene cedak ambek aku.”

Aku mendekat. Duduk di sampingnya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat bagaimana ia bekerja. 

Tidak tergesa. Tidak panik. Matanya membaca arah bola, tubuh pemain, bayangan cahaya. Jemarinya ringan, tapi pasti.

“Carane ngene, lo. Ben entuk gambar sing apik.”

Kalimat sederhana. Tapi di situlah kelas dimulai. Tanpa podium, tanpa papan tulis. Hanya rumput lapangan dan suara sorak-sorai.

Aku mengikuti arah lensanya. Menunggu. Saat Irjen Pol Firman Gani bersiap menendang bola ke arah gawang, aku menahan napas. Lalu: cekrek.

Satu momen. Satu bunyi. Satu keberanian.

Aku pamit lebih dulu karena deadline Surabaya Post tak pernah menunggu. 

Dua kali sehari: pukul 12.00 dan 21.00. Pukul 10.00 aku sudah di studio, mencetak foto. Dari dua frame yang kuambil, satu dipilih redaktur sebagai foto utama halaman Surabaya.

Kapolda tertangkap tepat sebelum kaki menyentuh bola. Ekspresi tegang. Energi membuncah. Hidup.

Redaktur memuji. Teman-teman mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu: ada jejak tangan Eric di foto itu.

Sejak hari itu, tak ada lagi jarak senior dan junior. Di lapangan, kami bercanda. Aku bahkan berani sesekali menggojloknya. 

Ia tak pernah pelit ilmu. Tak pernah merasa lebih tinggi. Di antara kerasnya dunia redaksi dan ketatnya tenggat waktu, ia menyisakan ruang untuk berbagi.

Tahun berganti. Kamera berubah. Dari roll film ke digital. Dari cekrek ke burst mode. Tapi satu hal tak berubah: cara Eric memandang lapangan. Ia selalu datang lebih awal, memilih sudut, duduk tenang, dan membiarkan momen mendekatinya.

Dua puluh satu tahun berlalu tanpa terasa.

Pagi ini, kabar itu datang seperti awan mendung yang tak diundang. Linimasa para wartawan dan fotografer Surabaya dipenuhi satu kalimat yang sama: Eric Ireng meninggal dunia.

Aku tercenung. Aku tidak bisa hadir takziah mengantar kepergianmu. Aku hanya bisa menggulirkan foto-foto itu. Entah saat mengajar dan berbagi hasil jepretan profesional.

Selamat jalan, Mas Eric Ireng.

Terima kasih telah mengajari kami bahwa memotret bukan sekadar menekan tombol. Ia adalah soal kesabaran, keberanian, dan kerendahan hati. 

Al Fatihah.

Tidak ada komentar