THE BEST NINE OPINIONS
Oleh: Imam Mubarok
Dari kebijaksanaan… tumbuh Kediri.
*Budayawan Kediri.
*****
Menakar Ulang Narasi Antirokok: Warisan Alam atau Regulasi?
Oleh: S. Alamsyah
Di
tengah gencarnya kampanye anti-rokok global, seolah ada satu suara yang
terus-menerus mengulang: perokok adalah biang kerok kematian dini.
Paru-paru
yang hitam, angka kematian akibat kanker, serta pusaran penyakit
degeneratif seperti jantung dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)
apa penyebabnya? Rokok.
Namun, apakah hitam-putih begitu persoalannya?
Di
Indonesia, narasi itu kini mulai dibungkus dalam bentuk aturan hukum.
Pemerintah melalui draf Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari UU
Kesehatan berniat memasang batas maksimal kadar nikotin hanya 1 mg dan
tar 10 mg per batang.
Tujuannya mulia: melindungi generasi muda dari
bahaya kecanduan.
Tapi kebijakan itu tak ubahnya seperti petir di
siang bolong bagi ekosistem Industri Hasil Tembakau (IHT).
Bukan
sekadar karena bisnis rokok besar akan terganggu.
Melainkan karena ada
benturan fundamental antara regulasi dan karakteristik alam Nusantara.
Alam dan Regulasi
Tembakau
Indonesia adalah warisan budaya.
Dari lereng Temanggung hingga Madura,
varietas tembakau lokal seperti tembakau Virginia, Besuki, dan Kasturi
dikenal memiliki kadar nikotin alami yang tinggi.
Menurut data
Kementerian Pertanian, produktivitas tembakau nasional mencapai lebih
dari 180 ribu ton per tahun.
Diserap oleh ratusan pabrik dan ribuan
petani.
“Jika aturan 1 mg nikotin dipaksakan, itu sama saja
memvonis mati tembakau lokal,” ujar seorang petani tembakau yang hadir
dalam pertemuan uji publik yang digelar Kementerian Koordinator
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) bulan Maret lalu.
Artinya, kita seperti menghukum petani karena geografisnya.
Tak
main-main, sektor IHT menyerap lebih dari 5 juta tenaga kerja langsung
dan tidak langsung—mulai dari petani, buruh linting, hingga agen
pengecer.
Cukai hasil tembakau juga menjadi salah satu
penyumbang terbesar pendapatan negara, mencapai lebih dari Rp200 triliun
per tahun (Kemenkeu, 2023).
Di sinilah letak dilema klasik: antara melindungi kesehatan generasi masa depan atau mempertahankan nafkah jutaan rakyat.
Standar Ganda
Pemerintah
berdalih bahwa langkah ini demi menyelamatkan anak-anak Indonesia dari
jeratan nikotin.
Namun, para pelaku usaha dan akademisi mulai menyoroti
standar ganda kebijakan publik.
Mengapa rokok jadi sasaran
tembak paling keras, sementara konsumsi gula yang meledak-ledak di
minuman kemasan dan makanan olahan dibiarkan leluasa?
Data
Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi obesitas dan diabetes terus
merangkak naik.
Bahkan, Indonesia masuk dalam daftar negara dengan
penderita diabetes tertinggi di Asia.
Namun, hingga kini belum ada
kebijakan seketat itu terhadap kadar gula.
Belum lagi soal polusi
udara.
Setiap hari, paru-paru pengemudi ojek online di Jakarta,
Surabaya, dan Medan menghirup gas buang kendaraan yang mengandung PM2,5,
karbon monoksida, dan nitrogen dioksida.
Sebuah studi dari
IQAir bahkan menyebut Jakarta sebagai salah satu kota dengan polusi
udara tertinggi di dunia. Ironisnya, tak ada kampanye sefrenetik
“anti-emisi” seperti halnya anti-rokok.
Di sinilah nama Lauren A. Colby mulai relevan untuk diseret ke panggung diskusi kita.
Membongkar "Junk Science"
Lauren
A. Colby, seorang pengacara asal Amerika Serikat, menulis buku
kontroversial berjudul In Defense of Smokers (1995).
Buku ini dianggap
tabu karena berani mempertanyakan dogma medis arus utama yang
menyudutkan rokok sebagai biang kerok tunggal penyakit paru.
Colby
tidak pernah bilang merokok itu sehat.
Namun, ia melancarkan kritik
tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai junk science—sains sampah yang
kerap digunakan untuk membangun propaganda ketakutan massal.
Apa saja poin Colby yang membakar logika kita?
Pertama, manipulasi statistik dan pengabaian faktor lingkungan.
Colby
berargumen bahwa banyak studi epidemiologi tentang rokok dan kanker
paru sering kali mengabaikan variabel lain.
Seperti polusi industri,
paparan asbes, atau faktor genetik.
Di Indonesia, hal ini bisa
dianalogikan dengan fakta bahwa pekerja tambang, pabrik tekstil, atau
bahkan petani yang terpapar pestisida jauh lebih rentan terhadap
penyakit pernapasan.
Namun tak pernah mendapat sorotan sama seperti
perokok aktif.
Kedua, paradoks umur panjang di tengah konsumsi
tembakau tinggi.
Colby menyoroti fenomena di sejumlah wilayah
Asia—seperti Okinawa (Jepang) atau sebagian kecil masyarakat tradisional
di India—yang memiliki angka harapan hidup tinggi meski tingkat
konsumsi tembakau juga signifikan.
Apakah ini berarti nikotin
bukan satu-satunya variabel?
Tentu tidak.
Tapi ini mengajak kita
bertanya: apakah yang lebih dominan adalah gaya hidup, pola makan, atau
dukungan sosial?
Aspek Psikososial
Colby juga menekankan satu hal yang kerap dilupakan birokrat kesehatan: kebahagiaan kecil yang didapat perokok.
Bagi
buruh pabrik, kuli angkut, atau nelayan yang pulang melaut, rokok
adalah semacam "ritual istirahat" yang memberi relaksasi sejenak dari
himpitan ekonomi.
Mengabaikan aspek ini, menurut Colby, adalah bentuk arogansi kebijakan publik yang hanya melihat tubuh, bukan jiwa manusia.
Dilema "Emas Hijau"
Jika
pemerintah memaksakan batas 1 mg nikotin dan 10 mg tar tanpa kompromi,
kita mungkin menyaksikan skenario paling suram: runtuhnya ekosistem
tembakau lokal.
Pabrik rokok akan berbondong-bondong mengimpor tembakau kadar rendah dari luar negeri atau memaksa petani mengubah varietas.
Akibatnya? Petani lokal tergusur. Warisan agrikultur Nusantara perlahan lenyap.
Sebagai
perbandingan, negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni
Eropa memang sudah menerapkan batasan kadar nikotin dan tar.
Namun,
struktur industri tembakau mereka berbeda: petani tembakau di sana sudah
tersubsidiasi dan terintegrasi dengan perusahaan raksasa.
Sementara di
Indonesia, sebagian besar petani adalah rakyat kecil dengan lahan
terbatas.
Kritik terhadap kebijakan anti-rokok saat ini bukan
berarti anti-kesehatan.
Justru sebaliknya: kritik ini lahir dari
keinginan agar kebijakan publik itu adil. Ilmiah dan manusiawi.
Mengapa
polusi kendaraan tidak ditekan dengan regulasi setara?
Mengapa gula tak
dibatasi seketat nikotin?
Mengapa suara petani tak didengar dalam
setiap draf kebijakan?
Membaca ulang buku In Defense of Smokers
di era sekarang bukan ajakan untuk merokok massal.
Melainkan ajakan
untuk tidak mudah terjebak dalam narasi tunggal.
Colby mengajarkan satu hal berharga: skeptisisme sehat terhadap kampanye yang terlalu sempurna.
Indonesia seharusnya tidak perlu memilih antara membiarkan warganya mati karena rokok atau membunuh industri sendiri.
Ada
jalan tengah yang lebih bijak: pengawasan ketat terhadap peredaran
rokok ilegal.
Kampanye bahaya merokok tanpa stigmatisasi berlebihan.
Diversifikasi tanaman bagi petani tembakau.
Dan yang terpenting:
regulasi yang proporsional terhadap semua faktor risiko kesehatan. Bukan
hanya tembakau.
Karena pada akhirnya, kesehatan masyarakat tak
akan pernah tercapai dengan kebijakan yang buta terhadap realitas
sosial, ekonomi, dan geografis bangsanya sendiri.
*Penulis adalah pendiri Pusat Studi Pembangunan Berbasis Pancasila.
*****
Kartu Merah Bastoni, Tanda Berakhirnya Kutukan?
Itu adalah requiem, sebuah kidung kematian bagi timnas Italia yang kembali gagal ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Kegagalan Saat Bastoni Dikartu Merah
Menghadapi Bosnia-Herzegovina dalam laga hidup-mati kualifikasi Piala Dunia 2026, Gli Azzurri sebenarnya sempat memegang kendali lewat gol Moise Kean pada menit ke-15.
Bayangan Piala Dunia 2026 seolah sudah di depan mata.
Namun, gairah itu mendadak padam di menit ke-41.
Defender Alessandro Bastoni, melakukan tekel yang ceroboh.
Wasit pun menghukumnya dengan kartu merah langsung.
Sejak pemain Inter Milan itu keluar, Italia bermain compang-camping dengan 10 pemain.
Penguasaan bola Bosnia unggul bersama juga dengan peluang tembakannya.
Tekanan bertubi, akhirnya membuat gol penyeimbang jadi keniscayaan.
Italia kebobolan di menit ke-79, dan harus menjalani babak adu penalti.
Dalam kondisi ini, mental Italia tetap stagnan.
Hanya Sandro Tonali yang sukses mengeksekusi, sementara dua pemain Italia lain gagal.
Italia pun kalah tragis 1-4.
Matriks Peristiwa 20 Tahun Lalu di Berlin
Kartu merah Bastoni itu sesungguhnya ada keterikatan matriks dengan sejarah sebelumnya.
Seperti déjà vu mistis dari malam di Berlin, dua puluh tahun silam.
Kita tentu ingat bagaimana Marco Materazzi memprovokasi Zinedine Zidane hingga sang maestro Prancis itu meledak dan menghantamkan kepalanya ke dada Materazzi.
Kartu merah yang diterima Zidane saat itu adalah "berkah" yang mengantar Italia ke podium juara dunia 2006.
Tapi bagi Zizou, malam itu seperti neraka.
Tandukannya kemudian dicibir banyak media sebagai kegagalan Prancis, ia terpancing provokasi kotor Materazzi yang menghina ibu dan adik perempuannya.
Kartu merah Bastoni kemarin seperti karma yang dituntut oleh semesta.
Seolah-olah kartu merah yang disebabkan Materazzi untuk Zidane, baru benar-benar "dilunasi" dua dekade kemudian lewat kartu merah Bastoni.
Disinlah pola karma ini mulai terbaca. Materazzi dan Bastoni sama-sama bermain di posisi Central Defender (CB), dan untuk klub yang sama, yakni Inter Milan!
Bisa dibilang, defender Inter Milan adalah balak sejak peristiwa tandukan Zidane dulu.
Pola kegagalan Italia ini juga tak pernah berubah.
Selama periode "kegelapan", lini belakang Italia tak pernah absen dari pilar-pilar Inter Milan.
Karma itu terus mengalir selama Gli Azzurri memainkan defender yang berasal dari klub yang sama seperti Materazzi.
Setelah tersingkir memalukan di fase grup 2010 dan 2014, Italia justru menjadi "penonton" di tiga edisi beruntun.
Pada 2018, mereka dijinakkan Swedia dengan agregat 1-0. Pada 2022, mereka dihancurkan oleh gol telat Makedonia Utara (0-1) di rumah sendiri.
Dan kutukan itu berlanjut sampai kemarin, Italia gagal ke Piala Dunia lagi setelah ditundukkan Bosnia-Herzegovina.
Dalam fase itu, kita bisa melihat barisan pertahanan Italia yang selalu diperkuat bek Inter Milan.
Setelah era Materazzi, berlanjut ke skuat tahun 2011-2019, di mana nama-nama seperti Andrea Ranocchia, Danilo D’Ambrosio, hingga Cristiano Biraghi silih berganti mengisi slot pertahanan Italia.
Di era 2020-2026 barisan belakang Italia juga duhuni kuartet Inter Milan seperti Francesco Acerbi, Matteo Darmian, Federico Dimarco, hingga akhirnya Alessandro Bastoni.
Seolah ada energi negatif yang terus merembes dari seragam Nerazzurri ke jantung pertahanan Gli Azzurri, membuat Dewi Fortuna selalu memalingkan wajah setiap kali Italia mencoba mengetuk pintu Piala Dunia.
Saya merasa kartu merah Bastoni di menit ke-41 itu adalah "tumbal terakhir" Materazzi.
Saat Materazzi memenangkan Piala Dunia 2006, ia sekaligus mewariskan beban karma yang sangat berat untuk dipikul generasi setelahnya.
Beban itu kini tuntas dibayar oleh Bastoni, pemain yang berbagi posisi dan klub yang sama dengan sang provokator di Berlin.
Antisipasi untuk Piala Dunia 2030
Kartu merah di Zenica adalah tanda berakhirnya siklus 20 tahun kegelapan.
Dengan tumbal yang sudah diserahkan, Gli Azzurri diprediksi akan kembali menghirup udara segar di Piala Dunia 2030, karena hutang masa lalu telah tunai.
Namun, untuk memastikan kutukan ini benar-benar terkubur di dasar bumi, pelatih Italia di masa depan harus mengambil langkah radikal sebagai mantra penutup babak kelam ini.
Di masa kualifikasi Piala Dunia 2030 nanti, sebaiknya benteng pertahanan Italia bersih dari defender Inter Milan.
Jangan ada "Materazzi" lain sampai peraih empat gelar juara Piala Dunia itu masuk lagi di edisi Piala Dunia 2030.
Kecuali ada spekulasi lain, yang sangat tidak mungkin terjadi. Yakni pemaafan dari Zinedine Zidane kepada Marco Materazzi secara personal.
Sebab sampai kinipun, sang legenda Perancis itu tidak pernah mau membuka pintu maaf ataupun berbicara kepada Materazzi.
Selama ini, permintaan komunikasi terbuka oleh Materazzi tidak pernah diwujudkan Zidane. Komunikasi mereka membeku selama 20 tahun. Dan selama kebekuan itu, prestasi Italia juga ikut membeku.
*Jurnalis | Penggila Bola
Hemat Energi atau Sekadar Imbauan?



Ada satu jenis tulisan yang belakangan ini terasa semakin akrab di ruang publik kita.
Nadanya tenang, bahasanya rapi, dan isinya seolah mengajak kita untuk menjadi lebih bijak.
Ia tidak marah, tidak menyudutkan, bahkan tampak adil karena memberi ruang pada berbagai sisi.
Di tengah arus informasi yang serba cepat dan sering kali emosional, kehadirannya seperti jeda yang menawarkan kejernihan.
Namun justru karena itu, ia layak dibaca dengan kehati-hatian yang sama besarnya.
Sebab tidak semua yang terdengar bijak sepenuhnya netral.
Ada tulisan yang tidak berupaya memenangkan perdebatan secara langsung, melainkan perlahan menggeser cara pandang pembaca.
Ia tidak menolak kritik, tetapi mengajak untuk meragukan arahnya.
Ia tidak membantah argumen, tetapi memindahkan perhatian dari substansi ke latar belakang, dari persoalan ke kemungkinan motif.
Di titik tertentu, pendekatan ini tidak lagi sekadar mengajak memahami, tetapi mulai membentuk cara kita menilai.
Dalam perkembangan terakhir, muncul kecenderungan yang patut dicermati dengan lebih jernih: hadirnya berbagai suara yang tampil sebagai analis atau pakar, dengan gaya yang terukur dan berbasis data, namun bekerja dalam lanskap wacana yang tidak sepenuhnya steril dari kepentingan.
Ini bukan sesuatu yang selalu tampak kasat mata, melainkan bergerak di wilayah yang lebih halus—di dalam cara argumen disusun.
Melalui tulisan-tulisan yang tampak objektif, sering kali terjadi penyederhanaan yang tidak terasa. Data dipilih secara selektif, konteks dipersempit, dan kesimpulan dibangun secara bertahap hingga terlihat wajar.
Dalam proses seperti ini, logical fallacy tidak hadir sebagai kesalahan mencolok, melainkan sebagai bagian dari alur yang tampak masuk akal.
Di sinilah pentingnya kewaspadaan pembaca dari mahluk yang saya sebut The Eraser.
Mahluk yang hadir ketika sebuah kritik terhadap pemerintah butuh penghapus, atau pemecah keyakinan atas sikap kritis khalayak.
Bukan untuk menolak setiap pandangan yang berbeda, melainkan untuk memastikan bahwa apa yang kita terima benar-benar berdiri di atas penalaran yang utuh.
Karena dalam bentuknya yang paling halus, pembentukan opini tidak lagi bekerja melalui tekanan, tetapi melalui pengaturan sudut pandang.
Tulisan-tulisan semacam ini juga kerap menempatkan berbagai posisi dalam kerangka yang tampak seimbang.
Pemerintah, oposisi, dan kelompok kritis dipandang memiliki potensi bias masing-masing.
Pendekatan ini tentu memiliki nilai, tetapi jika tidak disertai pembacaan konteks yang memadai, ia berisiko mengaburkan perbedaan yang justru penting untuk dipahami.
Akibatnya, semua hal terasa relatif, dan pembaca didorong untuk menunda penilaian tanpa batas yang jelas.
Kehati-hatian memang bagian penting dari nalar publik. Namun jika keraguan terus dipelihara tanpa arah, ia dapat menjauhkan kita dari kemampuan untuk melihat persoalan secara tegas ketika diperlukan.
Karena itu, membaca hari ini tidak cukup hanya dengan mencari apa yang terdengar masuk akal.
Kita juga perlu bertanya: bagaimana sebuah argumen dibangun, apa yang disertakan, dan apa yang mungkin tidak disampaikan.
Bukan untuk menjadi curiga pada segala hal, melainkan untuk menjaga agar ruang berpikir tetap terbuka dan tidak diarahkan tanpa disadari.
Pada akhirnya, kualitas percakapan publik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berbicara, tetapi juga oleh sejauh mana kita, sebagai pembaca, mampu mengenali cara sebuah narasi bekerja.
Dan mungkin, di tengah banyaknya tulisan yang terasa benar, kewaspadaan justru menjadi bentuk paling sederhana dari tanggung jawab intelektual.
Oleh: Joseph E Ikanubun
Ketika itu konflik bernuansa SARA terjadi di Maluku dan Maluku Utara.
(5). Komentar seragam (copy-paste): Sering meninggalkan komentar yang sama persis di berbagai postingan berbeda untuk menggiring opini.
(6). Tanggal pembuatan akun baru dan pengikut sedikit: Akun biasanya baru dibuat, namun sudah sangat aktif, dan jumlah pengikutnya sedikit atau bahkan nol.
(8). Agresif dan menyerang. Narasi yang digunakan cenderung emosional, provokatif, memicu kebencian, atau membela kelompok tertentu.
Nah, melalui pola ini, semoga kita, masyarakat umum dapat segera mengenali akun yang sengaja dibuat untuk memanipulasi opini publik.
Leiden, 3 Maret 2026
*****
Oleh: Edi Purwanto
Pagi itu, 2004. Rumput Lapangan Gelora Sepuluh Nopember masih basah oleh embun.
Para wartawan berdiri menyebar di tepi lapangan, menunggu momen.
Di salah satu sudut kanan gawang, seorang lelaki bertubuh gempal duduk tenang.
Wajahnya sangar.
Kulitnya legam.
Di tangannya, kamera Nikon dengan lensa tele panjang menjulur seperti meriam kecil yang siap menembak cahaya.
Namanya Eric Siswanto. Tapi kami mengenalnya sebagai Eric Ireng.
Julukan itu melekat bukan karena ia keras, barangkali karena kulitnya yang gelap dan keakraban khas anak lapangan.
Di balik raut wajah yang membuat orang segan, ada senyum tipis yang jarang gagal mencairkan suasana. Ia fotografer senior Harian Surya.
Aku? Hanya wartawan junior dengan kamera cekrek dan roll film yang harus diputar manual.
Hari itu kami meliput pertandingan sepak bola yang diikuti Kapolda Jatim saat itu, almarhum Irjen Pol Firman Gani.
Aku berdiri agak jauh, mencoba mencari sudut. Minder? Tentu saja.
Kamera seadanya, pengalaman minim, dan di sebelahku duduk seorang jebolan Stikosa AWS yang reputasinya sudah panjang di lapangan.
“Kene cedak ambek aku.”
Aku mendekat. Duduk di sampingnya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat bagaimana ia bekerja.
Tidak tergesa. Tidak panik. Matanya membaca arah bola, tubuh pemain, bayangan cahaya. Jemarinya ringan, tapi pasti.
“Carane ngene, lo. Ben entuk gambar sing apik.”
Kalimat sederhana. Tapi di situlah kelas dimulai. Tanpa podium, tanpa papan tulis. Hanya rumput lapangan dan suara sorak-sorai.
Aku mengikuti arah lensanya. Menunggu. Saat Irjen Pol Firman Gani bersiap menendang bola ke arah gawang, aku menahan napas. Lalu: cekrek.
Satu momen. Satu bunyi. Satu keberanian.
Aku pamit lebih dulu karena deadline Surabaya Post tak pernah menunggu.
Dua kali sehari: pukul 12.00 dan 21.00. Pukul 10.00 aku sudah di studio, mencetak foto. Dari dua frame yang kuambil, satu dipilih redaktur sebagai foto utama halaman Surabaya.
Kapolda tertangkap tepat sebelum kaki menyentuh bola. Ekspresi tegang. Energi membuncah. Hidup.
Redaktur memuji. Teman-teman mengangguk. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu: ada jejak tangan Eric di foto itu.
Sejak hari itu, tak ada lagi jarak senior dan junior. Di lapangan, kami bercanda. Aku bahkan berani sesekali menggojloknya.
Ia tak pernah pelit ilmu. Tak pernah merasa lebih tinggi. Di antara kerasnya dunia redaksi dan ketatnya tenggat waktu, ia menyisakan ruang untuk berbagi.
Tahun berganti. Kamera berubah. Dari roll film ke digital. Dari cekrek ke burst mode. Tapi satu hal tak berubah: cara Eric memandang lapangan. Ia selalu datang lebih awal, memilih sudut, duduk tenang, dan membiarkan momen mendekatinya.
Dua puluh satu tahun berlalu tanpa terasa.
Pagi ini, kabar itu datang seperti awan mendung yang tak diundang. Linimasa para wartawan dan fotografer Surabaya dipenuhi satu kalimat yang sama: Eric Ireng meninggal dunia.
Aku tercenung. Aku tidak bisa hadir takziah mengantar kepergianmu. Aku hanya bisa menggulirkan foto-foto itu. Entah saat mengajar dan berbagi hasil jepretan profesional.
Selamat jalan, Mas Eric Ireng.
Terima kasih telah mengajari kami bahwa memotret bukan sekadar menekan tombol. Ia adalah soal kesabaran, keberanian, dan kerendahan hati.
Al Fatihah.











.jpg)










Tidak ada komentar